Rabu, 27 Maret 2013

Makalah Tatanan Sosial dan Pengendalian Sosial

Tatanan Sosial dan Pengendalian Sosial
Kita hidup dalam suatu lingkungan sosial yang bukan apa adanya. Lingkungan sosial tersebut mempunyai sejumlah prasyarat yang menjadikannya dapat terus berjalan dan bertahan. Coba Anda identifikasi prasyarat apa saja yang ada pada lingkungan sosial Anda? Prasyarat-prasyarat inilah yang kita sebut tatanan sosial (sosial order).
Suatu lingkungan sosial di mana individu-individunya saling berinteraksi atas dasar status dan peranan sosial yang diatur oleh seperangkat norma dan nilai diistilahkan dengan tatanan sosial. Pada saat kita berbicara tentang tatanan sosial, ada beberapa konsep penting yang perlu didiskusikan yaitu tentang: struktur sosial, status sosial, peranan sosial, institusi sosial, serta masyarakat.
Struktur Sosial
Struktur sosial adalah salah satu elemen tatanan sosial. Struktur sosial adalah tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Susunannya bisa vertikal atau horizontal. Terdapat beberapa definisi tentang struktur sosial, yang dirumuskan oleh para ahli, antara lain:
· George Simmel: struktur sosial adalah kumpulan individu serta pola perilakunya.
· George C. Homans: struktur sosial merupakan hal yang memiliki hubungan erat dengan perilaku sosial dasar dalam kehidupan sehari-hari.
· William Kornblum: struktur sosial adalah susunan yang dapat terjadi karena adanya pengulangan pola perilaku undividu.
· Soerjono Soekanto: struktur sosial adalah hubungan timbal balik antara posisi-posisi dan peranan-peranan sosial.
· Erich Goode (1988): struktur sosial sebagai jaringan yang saling berhubungan, yang secara normative mengarahkan hubungan sosial yang ada di masyarakat
Status Sosial
Sehubungan dengan struktur sosial dikenal istilah status. Secara umum status dipahami sebagai urutan orang berdasarkan kekayaannya, pengaruhnya, maupun prestisenya. Akan tetapi sosiolog mengartikan status sebagai posisi di dalam kelompok atau masyarakat. Artinya letak seseorang di antara orang yang lainnya dalam suatu struktur sosial. Contoh status adalah ibu, kyai, teman, tentara, orang kulit hitam, dan lain-lain. Sehubungan dengan status ini, dibedakan antara ascribed statuses (status yang diperoleh) dan achieved statuses (status yang diraih). Di samping ascribed statuses dan achieved statuses, juga terdapat master statuses. Master statuses adalah kunci atau inti dari status yang mempunyai bobot utama dalam interaksi dan hubungan sosial seseorang dengan orang yang lainnya (Zanden, 1993).
Peranan Sosial
Selain konsep status sosial, di dalam struktur sosial terdapat juga konsep peranan sosial. Konsep peranan sosial mengacu pada pengertian tentang serangkaian hak dan tugas yang didefinisikan secara kultural. Sehingga dengan demikian perilaku individu dilihat sebagai sesuatu yang penting atau tidak penting dalam hubungannya dengan status. Secara sederhana dapat dikatakan perbedaan antara status dan peran adalah bahwa kita memiliki status dan kita memerankan peran sosial. Peranan adalah perilaku yang diharapkan sehubungan dengan status yang dimiliki. Role performance adalah perilaku aktual seseorang sehubungan dengan statusnya. Dalam kehidupan nyata sering kali terjadi gap antara apa yang seseorang seharusnya lakukan dengan apa yang seseorang lakukan. Satu status tertentu mungkin mempunyai aneka ragam peranan yang harus dimainkan. Hal inilah yang disebut dengan role set. Contohnya Anda sebagai kepala keluarga tidak hanya berperan sebagai pemimpin bagi anggota keluarga Anda, melainkan juga berperan sebagai pencari nafkah, wakil keluarga Anda dalam kegiatan-kegiatan sosial di kampung, dan lain-lain.
Institusi Sosial
Elemen yang lain dari struktur sosial adalah institusi sosial. Institusi sosial berkaitan erat dengan upaya individu untuk memenuhi kebutuhannya, di mana untuk itu individu berusaha membentuk dan mengembangkan serangkaian hubungan sosial dengan individu lainnya. Serangkaian hubungan sosial tersebut terlaksana menurut pola-pola tertentu. Pola resmi dari suatu hubungan sosial ini terjadi di dalam suatu sistem yang disebut dengan sistem institusi sosial. Istilah institusi sudah lama digunakan dalam kajian sosiologi. Istilah institusi sosial berasal dari bahasa Inggris institution. Sehubungan dengan pengertian institusi sosial ini, beberapa ahli telah berusaha mendefinisikannya, salah satunya definisi dari Judson R. Landis (1986: 255) yang mendefinisikan institusi sosial sebagai norma-norma, aturan-aturan, dan pola-pola organisasi yang dikembangkan di sekitar kebutuhan-kebutuhan atau masalah-masalah pokok yang terkait dengan pengalaman masyarakat. Dari definisi ini maka bisa kita pahami bahwa institusi sosial merujuk pada upaya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan atau untuk mengatasi masalah. Para sosiolog telah berusaha membuat penggolongan institusi sosial yang ada di masyarakat atas dasar fungsi dari institusi sosial tersebut. Apa saja jenis-jenis institusi sosial, telah saya rangkumkan sebagaimana berikut ini.
Institusi Sosial
Fungsinya
Contohnya
Kinship/domestic
institutions
1. mengatur perilaku seksual
2. memelihara kelangsungan
keturunan melalui kelahiran
3. merawat dan melindungi anak
4. menyosialisasikan anak
5. mengatur penempatan status, sebagai penerusan warisan
sosial
6. mencukupi kebutuhan
ekonomi sebagai unit pokok produksi dan konsumsi
perkawinan, tolong
menolong antar kerabat,
pengasuhan kanak-
kanak, sopan santun
pergaulan antar kerabat,
sistem istilah
kekerabatan, dan lain-lain
Economic institutions
1. produksi barang dan jasa
2. distribusi barang danjasa serta
Pendistribusian sumber daya ekonomi (tenaga dan peralatan)
3. konsumsi barang dan jasa
pertanian, peternakan,
pemburuan, industri,
barter, koperasi
penjualan,
penggudangan,
perbankan, dan
sebagainya
Educational institutions
1. memberikan persiapan
bagi peranan-peranan
pekerjaan
2. bertindak sebagai perantara pemindahan
warisan kebudayaan
3. memperkenalkan kepada individu- individu tentang berbagai peranan
dalam masyarakat
4. mempersiapkan para individu dengan berbagai peranan sosial yang dikehendaki
5. memberi landasan bagi
penelitian dan pemahaman status relatif
6. memperkuat penyesuaian diri dan mengembangkan
hubungan sosial
pengasuhan kanak-
kanak, pendidikan rakyat,
pendidikan menengah,
pendidikan tinggi,
pemberantasan buta
huruf, pers, perpustakaan
dan lain-lain
scientific institutions
1. meningkatkan kemampuan melalui pengikutsertaan dalam
riset-riset ilmiah
metodologi ilmiah,
penelitian, pendidikan
ilmiah, dan sebagainya
aestethic/recreational institutions
1. memenuhi keperluan
manusia untuk
penghayatan rasa
keindahan
2. memenuhi keperluan
untuk rekreasi
seni rupa, seni suara, seni
gerak, seni drama,
kesusasteraan, olah raga,
dan sebagainya
Somatic institutions
1. memenuhi keperluan
fisik dan kenyamanan
pemeliharaan kecantikan,
pemeliharaan kesehatan,
kedokteran, dan lain-lain
religious institutions
1. bantuan terhadap
pencarian identitas moral
2. memberikan
penafsiran-penafsiran
untuk membantu
menjelaskan keadaan
lingkungan fisik dan
sosial seseorang
3. peningkatan kadar
keramahan bergaul,
kohesi sosial, dan
solidaritas kelompok
doa, kenduri, upacara
ritual, meditasi, bertapa,
penyiaran agama,
pantangan, ilmu gaib, ilmu
dukun, dan sebagainya
political institutions
1. memenuhi kebutuhan
manusia untuk
mengatur dan
mengelola
keseimbangan
kekuasaan
2. pelembagaan norma
melalui undang-
undang yang
disampaikan oleh
badan-badan
legislative
3. melaksanakan undang-
undang yang telah disetujui,
4. penyelesaian konflik
yang terjadi di antara
anggota masyarakat
5. melindungi warga
negara dari serangan
bangsa-bangsa lain
dan pemeliharaan
kesiapsiagaan
menghadapi bahaya
pemerintahan, demokrasi,
kehakiman, kepartaian,
kepolisian, ketentaraan,
dan sebagainya
Penggolongan institusi sosial sebagaimana yang terdapat dalam Tabel 1 memang belum mewakili semua institusi sosial yang ada di masyarakat. Kejahatan, pelacuran, korupsi juga merupakan institusi sosial. Selain itu suatu aspek bisa saja masuk ke dalam dua atau lebih golongan institusi sosial, misalnya pengasuhan kanak-kanak bisa masuk ke dalam kinship/domestic institutions dan educational institutions. Di samping itu juga bisa terjadi pengalihan fungsi dari institusi social yang satu pada institusi sosial lainnya. Pengalihan fungsi ini terjadi apabila institusi sosial tersebut tidak lagi berhasil memenuhi kebutuhan yang harus diberikan, dan dua atau lebih institusi sosial mampu memenuhi suatu kebutuhan tertentu, tetapi tetap ada salah satu di antara institusi-institusi sosial tersebut yang mempunyai kemampuan paling tinggi. (Zanden, 1993)
Masyarakat
Salah satu bentuk dari tatanan sosial adalah masyarakat. Kita tahu bahwa sebagai makhluk sosial kita hidup di dalam masyarakat. Sebagai individu kita tidak bisa melepaskan diri kita dari ketergabungan kita ke dalam masyarakat. Dengan bergabung di dalam masyarakat, artinya dengan mengembangkan hubungan sosial dengan individu lainnya, maka aspek kemanusiaan kita menemukan bentuknya. Sebagai makhluk sosial, manusia adalah jenis makhluk hidup yang hidup dalam kolektivitas. Terdapat berbagai macam bentuk kolektivitas, tetapi yang umum dikenal adalah apa yang disebut dengan masyarakat. Istilah masyarakat dalam bahasa Inggris di sebut society, dalam bahasa latin diistilahkan dengan socius yang artinya berkawan, dan dari bahasa Arab disebut syaraka yang artinya ikut serta berpartisipasi. Berdasarkan arti katanya, masyarakat memang merupakan sekumpulan individu-individu yang saling mengembangkan hubungan sosial (saling berinteraksi). Akan tetapi perlu dimengerti bahwa tidak semua kesatuan individu yang saling berinteraksi merupakan masyarakat. Salah seorang sosiolog yang membuat definisi dari konsep masyarakat ini adalah Talcot Parson (Sunarto, 2000: 56), yang mengartikan masyarakat sebagai sistem sosial yang swasembada (self- subsistent), melebihi masa hidup individu normal dan merekrut anggota secara reproduksi biologis serta melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya (mengenai definisi masyarakat dari Talcott Parson ini ada beberapa kesamaan dengan karakteristik masyarakat sebagaimana yang dikemukakan oleh Marion Levy). Masyarakat sendiri merupakan suatu jenis sistem sosial yang lebih besar daripada institusi. Masyarakat ini merupakan bangunan dari struktur social yang di dalamnya terdapat status, peranan dan institusi. Masyarakat juga berbeda dengan komunitas. Komunitas sendiri diartikan sebagai “suatu kesatuan hidup manusia, yang menempati suatu wilayah yang nyata, dan yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat, serta yang terikat oleh suatu rasa identitas komunitas”.
Arti Definisi / Pengertian Pengendalian Sosial
Pengendalian sosial adalah merupakan suatu mekanisme untuk mencegah penyimpangan sosial serta mengajak dan mengarahkan masyarakat untuk berperilaku dan bersikap sesuai norma dan nilai yang berlaku. Dengan adanya pengendalian sosial yang baik diharapkan mampu meluruskan anggota masyarakat yang berperilaku menyimpang / membangkang. Secara rinci, beberapa faktor yang menyebabkan warga masyarakat berperilaku menyimpang dari norma-norma yang berlaku adalah sebagai berikut ( Soekanto, 181:45)
1. Karena kaidah-kaidah yang ada tidak memuaskan bagi pihak tertentu atau karena tidah memenuhi kebutuhan dasarnya.
2. Karena kaidah yang ada kurang jelas perumusannya sehingga menimbulkan aneka penafsiran dan penerapan.
3. Karena di dalam masyarakat terjadi konflik antara peranan-peranan yang dipegang warga masyarakat, dan
4. Karena memang tidak mungkin untuk mengatur semua kepentingan warga masyarakat secara merata.
Fungsi Pengendalian Sosial
Koentjaraningrat menyebut sekurang-kurangnya lima macam fungsi pengendalian sosial, yaitu :
a. Mempertebal keyakinan masyarakat tentang kebaikan norma.
b. Memberikan imbalan kepada warga yang menaati norma.
c. Mengembangkan rasa malu
d. Mengembangkan rasa takut
e. Menciptakan sistem hukum

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar